CATHOLIC MIGRATION OFFICE
Indonesian Catholic Migrant Ministry in New York is member of
Catholic Migration Office of Diocese of Brooklyn

Bersyukurlah dengan apa yang diberikan Allah

Bahasa Roh

Membahas tentang bahasa Roh memang tidak mudah. Banyak terjadi prasangka-prasangka yang tidak sehat di kalangan umat. Ada yang membela membabi-buta, ada yang menolak mentah-mentah. Mengapa hal ini terjadi? Karena karunia Roh ini adalah karunia yang paling controversial dan seolah-olah memisahkan antara yang karismatik dan non karismatik. Pembahasan ini sangat amat tidaklah cukup menjelaskan realitas ini, tapi paling tidak sedikit memberikan gambaran yang seimbang.

Pertama-tama bahasa Roh adalah salah satu karunia Roh Kudus (1 Kor 14:2-dst). Karunia adalah gift, anugerah, hadiah dari Allah. Jadi itu bukan barang buatan manusia dan terserah pada yang memberi, yakni Allah. Jadi bahasa Roh bukanlah fenomen gila atau penyakit psikologis, tapi karunia Allah. Jadi tidaklah tepat kalau orang dengan angkuh menolak adanya karunia ini, dan sangat salah kalau orang bermain-main dengan meniru-niru karunia ini. Karunia adalah pemberian bebas dari Allah, tidak bisa dipaksakan, hanya bisa dimohonkan dengan rendah hati.

Lalu bahasa roh sendiri itu apa? Apakah itu glossolalia (berkata-kata dengan tidak jelas) atau xenoglossia (berkata-kata dalam bahasa asing dengan baik dan jelas tanpa orang punya pengetahuan di dalamnya)? Jawabannya keduanya. Akan tetapi yang lebih biasa terjadi adalah glossolalia, meskipun memang dlm beberapa kasus ada xenoglossia, seperti dalam Pentakosta perdana (Kis 2:1-13). Setelah diakan penyelidikan, tak ada fenomen bahasa di dalamnya, ini melulu ungkapan Roh pada Allah dengan cara misterius (I Kor 14:2), suatu stenagmois alaletois (inexpressible groanings, Rom 8:26) dan untuk membangun hidup rohani pribadi (I Kor 14:4). Ini adalah karunia doa pribadi yang sangat dirindukan oleh para kudus!

Karunia bahasa Roh adalah karunia yang baik dan perlu, tapi tidak begitu penting jika dibandingkan karunia lain yang memiliki dampak sosial langsung, seperti karunia nubuat (I Kor 14:3). Karunia ini adalah karunia biasa (bdk. zaman ‘emas’ karunia ini dlm Kisah Para Rasul), dan bukan karunia elitis yang membuat orang menjadi eksklusif dan merasa diri lebih tinggi daripada orang lain yang tidak menerima karunia ini. Banyak orang yang tidak bijaksana memahami arti karunia ini. Jika karunia itu benar-benar dari Roh Kudus, maka karunia bahasa Roh ini akan membuat kita tetap rendah hati dan bersatu dalam Gereja. Kalau membuat kita sombong dan memecah belah, jangan-jangan itu adalah karya roh jahat.

Sebagai orang Katolik kita tak perlu takut akan karunia ini. Dampak yang terjadi kalau orang menerima karunia ini adalah: tenang-damai, lega, pikiran terfokus, dan feel the great love of God in the prayer. Bagi mereka yang tak mendapat tak usah dipaksakan, menjadi pura-pura dan aneh, akan tetapi juga jangan menutup diri pada karunia agung dalam hal doa pribadi ini. Bagi yang mendapat jangan pamer karena ini bukan barang mainan, tapi karunia kudus dari Allah. Sekali lagi tidak ada status rohani yang lebih tinggi antara yang mendapat karunia ini dan mereka yang tidak mendapatkannya. Ada uncountable karunia yg tersedia, jangan takut. Tapi sekali lagi karunia bahasa Roh ini adalah karunia common, umum.

Sebagai penutup marilah kita berpegang teguh pada ajaran St. Paulus sendiri: “Kamu memang berusaha untuk memperoleh karunia-karunia Roh, tetapi lebih daripada itu hendaklah kamu berusaha mempergunakannya untuk membangun Jemaat.” (1 Kor 14:12)

Washington, DC.
Rm. Benny Phang O.Carm