CATHOLIC MIGRATION OFFICE
Indonesian Catholic Migrant Ministry in New York is member of
Catholic Migration Office of Diocese of Brooklyn

Bersyukurlah dengan apa yang diberikan Allah

Baptis Katolik tidak sah ?

Pertanyaan-pertanyaan ini banyak dilontarkan oleh umat gereja-gereja Protestan, bahkan juga oleh umat Katolik. Mereka tidak dapat dipersalahkan begitu saja karena pertanyaan tsb. Mereka juga tidak dapat dicap: konyol bin bloon. Iman perlu dipahami dengan baik. Fides quaerens intellectum . Untuk itu, perlu ada pertanyaan supaya ada jawaban. Jawaban ini tentunya mengalir dari pemahaman mereka yang beriman Katolik.

Arti Baptis

Kata baptis yang kita kenal berasal dari kata Yunani }#”BJT ” yang artinya berendam, mencelupkan, atau masuk ke dalam air. Dari kata ini muncul (derivative) kata $”BJ4F:” ?(kb) yang berarti hal mencelupkan atau mencuci. Selain itu muncul juga kata $”BJ4.T yang secara literal (harafiah) berarti keadaan berendam. Arti kiasan dari kata ini ialah berlimpah kesusahan dan penderitaan. Arti kiasa ini dalam PB digunakan untuk menggambarkan keadaan Yesus dan para rasul yang “dibaptis” dengan penderitaan (Mrk 10:38 -39). * Dari kata $”BJT , muncul juga kata $”BJ4F:@F yang berarti kegiatan membaptis (the act of baptizing).

Jadi, baptis itu pada dasarnya berarti mandi. Lebih jauh, baptis itu berhubungan dengan penggunaan air untuk membasuh tubuh. Cara mandi atau pun membasuh tubuh bisa berbeda-beda seturut kebiasaan dan budaya tiap-tiap orang. Ada yang mandi dengan mengguyur tubuh menggunakan gayung (orang Indonesia pada umumnya). Ada juga yang menggunakan shower. Ada sejumlah orang yang berendam di bathtube. Tidak jarang, mandi diartikan cuci muka atau mengelap seluruh tubuh dengan lap basah. Yang lebih unik lagi, berenang tidak selalu diartikan mandi. Meskipun masuk ke dalam air, berendam dan bergerak ke sana ke mari, renang semata bentuk olah raga. Sesudah berenang, orang masih perlu mandi lagi. Nah. Jika mandi pun memiliki bermacam bentuk, sangat dimungkinkan pembaptisan pun dapat dilakukan dengan berbagai macam cara sesuai dengan keadaan / kondisi atau pun kemungkinan yang paling memungkinkan untuk dilakukan. Kitab Suci pun tidak pernah mengatakan: “..baptislah dengan menenggelamkan di sungai, di kolam, di bak mandi, di bathtube, atau di sumur, etc…” Yesus dalam Alkitab hanya mengatakan: “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus…” (Mt 28:19). Yang paling penting di sini adalah formula atau rumusan pembaptisan: “Dalam nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus.”

Untuk Apa Dibaptis?

Dari pertanyaan tentang mandi di atas, kita bisa menjawab: supaya segar, dan supaya bersih tentunya. Karena mandi berhubungan dengan air, maka efek yang ditimbulkannya berhubungan dengan sifat air: menyegarkan serentak membersihkan. Inilah inti jawabannya. Untuk memperluas pandangan kita, baiklah kita menengok ritual baptis, dalam hal ini ritual mandi, yang dilakukan oleh berbagai agama.

Agama Hindu di India mempunyai ritual khusus mandi suci. Ritual ini dilakukan tiap tahun di sungai-sungai yang dianggap suci, misalnya sungai Gangga. Konon, agama kuno Babilon, sekarang Irak, juga memiliki ritual semacam ini yang dilakukan di sungai Eufrat atau Tigris . Ada dua hal seturut iman mereka yang mereka terima dari mandi suci ini. Pertama, pembersihan diri dari kenajisan atau kekotoran moral. Dengan membersihkan tubuh dari kotoran-kotoran yang melekat di badan, mereka yakin bahwa kotoran moral yang menajiskan manusia (bdk. Mat 11:19 -20a: “…segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat. Itulah yang menajiskan orang.”) ikut hilang bersama kotoran di badan. Pemikiran ini dapat dipahami, karena dengan mandi tubuh mereka menjadi segar. Ketika tubuh segar, pikiran pun ikut segar dan orang menjadi sadar atas segala kekotoran atau kejahatannya selama ini. Mens sana in corpore sano . Kedua, dengan mandi suci mereka memperoleh immortalitas atau hidup abadi. Mereka merasa segar setelah mandi, dan kesegaran ini dirasakan sebagai pulihnya kekuatan untuk hidup. Immortalitas ini dirasakan dari pulihnya kesegaran dan kekuatan hidup mereka. Banyak agama percaya bahwa immortalitas adalah sifat yang melekat pada makhluk ilahi. Oleh karena itu, mereka yang melakukan mandi suci menjadikan dirinya ilahi, atau sejajar dengan makhluk-makhluk ilahi, karena keabadian hidup sekaligus kesucian moral yang mereka peroleh dari mandi suci tersebut.

Dalam agama Yahudi (bdk. PL) , baptis atau $”BJT (mencelupkan) atau tabal menjadi kata teknis yang berhubungan dengan pembersihan ( removal of impurities ). Imamat 14:6-7 mengatakan bahwa seorang lepra (kusta) dinyatakan telah sembuh dan bersih dari penyakitnya setelah ia mengikuti ritual khusus. Dalam ritual tsb, imam mencelupkan hysop dalam darah dan memercikkannya ke atasnya. Taurat mengatakan bahwa tabal dalam artian mandi atau berbasuh adalah upacara wajib yang dilakukan untuk menghilangkan menghilangkan kekotoran atau kenajisan ritual: mandi setelah sembuh dari lepra (Im 14:8-9), setelah bersentuhan dengan orang najis (Im 15:11 ,13,16,18,27), dan setelah menyentuh mayat. Pada zaman Yesus, tata cara ritual pembersihan ini berkembang untuk hal-hal lain: mencuci cangkir dan gelas (Mrk 7:4), dan membasuh sebelum makan (Luk 11:38 ). Inti dari paham Yahudi ini, baptis atau pembasuhan atau mandi sekedar untuk menghilangkan segala kekotoran ritual. Kita tidak melihat tujuan moral yang ada di dalamnya.

Lalu, apa makna baptis atau “mandi” ini dalam pemahaman Kristiani? Dengan pembaptisan, seorang pengikut Kristus masuk dalam Kerajaan Allah sebagai orang yang menerima karya penyelamatan Allah. * Baptis mengandaikan keadaan bersih sebagai efek yang dihasilkannya. Karena itu, Yohanes Pembaptis menunjukkan tobat sebagai syarat untuk masuk Kerajaan Allah (Mat 3:1). Ciri khas (karakter) moral menjadi penekanan khusus. Seperti halnya pandangan agama-agama kuno pra-kristiani (hindu, agama babilonia, dll), pembaptisan dalam pandangan Kristiani tidak sekedar upacara ritual, tetapi mengungkapkan nilai moral di dalamnya. Para nabi PL (Yesaya, Yeremia, Yehezkiel) telah menggunakan symbol mandi untuk mengungkapkan pemikiran tentang pembersihan bathin dan moral (mis. Yes 1:16 : “Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat,..”). Dalam pandangan iman Kristiani, pembaptisan memberikan kepada orang yang dibaptis: kesucian, kebenaran dan bersih dari dosa (Roma 6:1-14) serentak menjadikannya anak Allah seturut gambaran Yesus (Gal 3:26 -27). Dengan buah-buah pembaptisan ini, seoran yang dibaptis dimasukkan dalam komunitas Kristiani (1Kor 12:13 ). Sakramen baptis dengan demikian menjadi sakramen inisiasi (atau tanda penerimaan anggota baru) dalam komunitas Kristiani. Inilah yang lebih penting untuk diingat dan direfleksikan daripada sekedar memperbincangkan ritus “mandi” atau “cuci muka”. Memfokuskan diri pada hal ritual semacam itu akan mudah membawa kita pada kemunafikan (bdk. Mat 23:25-27).

Mengapa Hanya Di Dahi?

Seperti telah dijelaskan sebelumnya, pertanyaan ini menjadi perdebatan di antara banyak orang, juga di antara para teolog. Keabsahan ritual pembaptisan Katolik diperdebatkan atas dasar kisah pembaptisan Yesus (Mat 3:13 -17) dan kisah sida-sida dari Etiopia (Kis 8:36 -38). Pertanyaan pun bisa berkembang meluas: “Jika baptis berarti mandi (Ef 5:26 ; Tit 3:5; Ibr 10:22 ), apakah itu berarti penenggelaman komplet seluruh tubuh? Apakah ini berarti kepala harus ditenggelamkan ke dalam air hingga tidak kelihatan?”

Dokumen kuno Gereja Katolik yang berjudul Didache mengatakan bahwa menuangkan air di dahi DIIJINKAN, jika penenggelaman tidak mungkin dilakukan. “Kita dapat menuangkan air di kepala 3x (sambil mengucapkan) dalam nama Bapa, dan Putera, dan roh Kudus. (Didache 7:2-3)” Rumusan atau formula pembaptisan itulah yang sebenarnya menjadi syarat keabsahan suatu pembaptisan. Syarat lain untuk keabsahan adalah pelayan atau orang yang membaptis.

Jadi, pembaptisan dapat dilakukan baik dengan penenggelaman, penuangan air di kepala, atau bahkan sekedar menekan dengan ringan ( lightly – non strongly / full power ) kepala sebagai tanda penenggelaman. Dalam hal ini, tidak ada hukum yang mengikat Gereja Katolik dalam melakukan ritus pembaptisan. Gereja Katolik memberi kebebasan dalam melakukan upacara pembaptisan. Artinya, jika memungkinkan dapat dilakukan penenggelaman 3x dalam kolam air baptis (air yang diberkati secara khusus sebagai air baptis). Umumnya, demi mudahnya untuk dilakukan (d.a. lebih praktis) pembaptisan dilakukan dengan cara penuangan air di dahi. Atau bahkan dalam suatu peristiwa di Kalimantan , konon seorang Pastor menyemprotkan air baptis dari selang (pipa elastis) kepada ratusan katekumen orang Dayak untuk membaptis mereka. Bayangkan! Ratusan orang hanya dilayani seorang Pastor. Jika Pastor ini dituntut untuk “menenggelamkan” atau menuangkan air di dahi satu per satu tiap kepala, berapa jam jadinya upacara pembaptisan tsb berlangsung. Bisa jadi, setelah semua orang yang dibaptis mengalami hidup baru dalam iman, Pastornya mengalami hidup baru bersama Bapa di surga alias mati kecapekan. Kasihan deh lu… Sebenarnya, makna baptis sebagai kelahiran baru kepada hidup baru inilah yang seharusnya lebih diutamakan. Konsekwensinya, setiap orang yang telah dibaptis harus hidup seturut standar moral hidup baru yang dihayatinya.

Mengapa tidak di-“mandi”- kan ? Yesus menjawab: “Barangsiapa telah mandi, ia tidak usah membasuh diri lagi selain membasuh kakinya, karena ia sudah bersih seluruhnya. Juga kamu sudah bersih, hanya tidak semua (Yoh 13:10 ).”

*** Selamat berarti tetap hidup atau survive . Dengan karya penyelamatanNya, Allah ingin manusia tetap hidup. Allah adalah Allah orang yang hidup (Mat 22:32 ). Sebab, hanya dengan “hidup” manusia dapat tinggal bersama Allah. Oleh karena itu, selama hidupnya manusia harus hidup dalam Allah. (bdk. Yoh 15:5-6: “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.”) ***

Tarrytown, NY
Rm. Denny O.Carm – 2003