CATHOLIC MIGRATION OFFICE
Indonesian Catholic Migrant Ministry in New York is member of
Catholic Migration Office of Diocese of Brooklyn

Bersyukurlah dengan apa yang diberikan Allah

Bersyukurlah dengan apa yang diberikan Allah

“Bersyukurlah dengan apa yang diberikan Allah dan jadikan diri bagian secara penuh akan apa yang telah diberikan Allah karena hanya dengan menjadikan diri sebagai bagian maka kasih akan berkembang dan jika kasih berkembang, mukjijat akan terjadi dalam seluruh perjalanan hidup”

Apapun yang terjadi, pahit atau manis, suka ataupun duka semua itu adalah jalan yang dipakai Allah untuk bekerja dalam hidup kita. Jika Allah sudah bekerja maka tak ada hal yang bisa menghalanginya dan yang bisa dilakukan hanyalah menerima dan terus berjalan bersama dengan apa yang telah dilakukan Allah itu. Karena hidup mengikuti perjalanan Allah, maka hidup akan banyak mengalami pengalaman yang dapat menghantar jiwa pada syukur kepadaNya.

Hari ini saya pergi ke daerah Lebak Bulus dengan naik kendaraan umum dan dalam kendaraan umum itu ada orang berjualan sejenis minyak gosok yang berasal dari kayu mulia yang hanya bisa tumbuh di papua tepatnya di puncak Jayawijaya, katanya sang penjual. Ini memang minyak yang baik karena saya pernah mendengar sendiri dari beberapa suster kami yang bekerja di Papua. Namun bukan minyaknya yang menjadikan penagalaman saya bertambah namun apa yang dilakukan sang penjual minyak itu.

Dalam berjualan sang penjual minyak itu mengatakan kalimat yang menakutkan sekali karena memakai nama Allah segala. Penjual itu mengatakan, “Saya tidak menipu anda semua karena menipu itu dosa, Lebih baik saya menjarah orang Cina daripada menipu anda”, sambunganya, “Demi nama Allah sungguh saya tidak menipu”.

Bukankah ini kalimat yang amat tidak “manusiawi”. Bagaimana menipu menjadi dosa sedangkan menjarah merupakan hal yang seolah biasa ? Apa artinya menipu uang lima ribu rupiah ? dibanding menjarah milik orang lain yang sebenarnya adalah saudarannya sendiri yang sama-sama hidup di negeri ini. Ini adalah hal yang salah (terutama bagi saya). Orang membandingkan dua hal yang sama sama salah bahkan sama sama berdosa. Dan ini juga merupakan salah satu intimidasi kepada mereka yang minoritas di negeri ini. Dengan mudahnya mereka mengatakan lebih baik menjarah daripada menipu uang lima ribu rupiah. Intimidasi dan pemojokan kepada yang lain sudah terjadi dalam negeri ini. Orang dengan mudahnya merendahkan sesamanya demi menarik simpati dan mengeruk keuntungan dari apa yang ditawarkan.

Budaya kasih dalam kebersamaan sudah jauh menyimpang bahkan cenderung ditinggalkan dan budaya kebencian kepada sesamanya ditanam dengan subur dalam setiap hati orang. Bayangkan kalau mental kebanyakan orang yang mengatakan beragama dan berketuhanan seperti mental penjual minyak gosok itu, “lebih baik menjarah daripada menipu”. Apakah menjarah milik orang lain dibenarkan menurutu agama mereka sedangkan mereka mengatakan agamanya berasal dari Allah yang maha pengasih ? Damai dan Allah macam apa yang akan dibawa jika menghormati sesamanya saja tidak bisa ? Inilah hidup jaman sekarang.

Penindasan terjadi dimana mana dan ini menyebabkan ketakutan bagi mereka yang dipandang kelas kambing di negeri ini. Kita memang golongan kecil dalam negeri ini tapi apakah keberadaan kita hanya akan menjadi alas demi kepuasan mereka sendiri ?Semua dari kita mngalami ini ketakutan dan ketidak berdayaan karena salahnya propganda mereka menyebarkan Allah. Keadaan diperparah dengan keperpihakan mereka yang punya otoritas kepada golongan yang keliru ini. Mereka yang punya otoritas dalam pemerintahan dan lembaga terhormat negeri inipun ikut ikut menindas dengan adanya peraturan peraturan yang semakin memojokkan kehidupan golongan kecil. Lihat apa yang sedang diusahakan mereka yang terhormat ini ?

Mereka menyiapkan undang undang yang semakin memasung kebebasan golongan kecil bahkan mereka membuat peraturan yang juga semakin memperkecil gerak golongan kecil. Memang dimana mana yang kuat, besar dan berkuasa cenderung menekan dan memenjarakan yang kecil. Suasana memang diciptakan mencekam agar mereka yang kecil ini menjadi takut dan akhirnya amti dalam ketakutan sehinggna hilang dari peredaran. Namun mereka tidak pernah menyadari bahwa apa yang semakin ditekan akan semakin bisa menghasilkan energi yang dahsyat dan malah bisa melejit keatas dan menyebar kemana mana. Ingat kalau anda menekan kentut yang akan keluar ? ia akan keluar dengan bunyi yang panjang dan bau yang menyengat.

Inilah kenyataan yang tidak bisa dihindari, semakin ditekan dan dilarang orang akan semakin lebih berani untuk menyatakan dirinya dan ini akan semakin memiliki pengaruh yang kuat karena mereka akan menguasai bidang-bidang yang tidak pernah disangka-sangka. Seperti tekanan yang diterima gereja, semakin gereja ditekan gereja semakin berkembang karena muncul pribadi pribadi yang ternyata berkekuatan besar dan bisa menjadi acuan serta tonggak sejarah perubahan. Semakin kita ditekan maka kita akan menjadi lebih kuat sehingga kita pantas bersyukur dengan apa yang dilakukan kepada kita semua selama ini.

Tindakan menekan hidup orang lain biasanya pertama-tama disebabkan rasa takut dan tidak bisa bersaing  dengan kehidupan orang yang ditekan. Kita lihat perikope tentang anak buta yang dimelekkan matanya oleh Yesus dalam injil Yohanes 9 : 1 – 41. Tekanan  yang diberikan semakin menjadikan ia berani berbicara kebenaran dan bahkan mewartakan mukjijat kemelekan matanya.
Mereka yang menekan sampai kehabisan akal serta tidak bisa berbuat banyak dengan pemuda yang melek matanya ini. Bahkan dalam akhir perikope dikatakan kalau pemuda ini malah mengalami perjumpaan secara pribadi dengan Yesus yang memelekkan matanya.

Hubungan pribadi dan relasi mesra malah semakin terbentuk dengan adanya banyak tekanan dan ketidakberpihakan mereka yang tahu dirinya dan hal inilah yang memberikan kekuatan kepada pemuda ini melawan semua tekanan dan tuduhan para pemuka agama. Ini juga akan terjadi dalam hidup kita. Tekanan yang terjadi akan semakin mendekatkan kita kepada Allah dan akhirnya terjalin hubungan secara pribadi dan menjadikan kita dapat bersinar serta bahkan dapat menekan balik mereka yang menekan kita
seperti yang dialami pemuda yang ada dalam Injil Yohanes itu, “Aku telah percaya kepadaNya, apakah engkau juga akan percaya kepadaNya seperti saya ?”. “Kami adalah orang benar dan keturunan Abraham dan bukan keturunan orang berdosa seperti engkau”, jawab pemuka agama. Bukankan ini rasa frustasi karena tidak bisa mengalahkan kepercayaan pemuda buta yang telah melihat itu. Orang yang melakukan tekanan kalau tidak dihadapi dengan drama tandingan maka mereka akan menjadi lemah dan akhirnya malah kalah dalam dunia intimidasi.

Maka ketabahan dan selalu percaya dengan penuh syukur dengan apa yang dilakukan mereka yang tidak mencintai kita akan memberikan kekuatan dalam hidup. Menjadi bagian orang lain berarti bisa menerima mereka yang tidak mencintai kita. Dan dengan menjadi bagian mereka dengan tetap tumbuh sebagai pribadi yang unik dan spesial dari Allah akan memberikan pengaruh besar pada mereka yang tidak mencintai kita. Bayang bayang gelap boleh menghantui bahkan menghalangi perjalanan kita tapi tangan kasih Allah akan terus terulur menunjukkan jalan kebenaranNya. Keyakinan dan iman yangn bersumber dari Allah yang benar akan memberikan kekuatan. Biarlah mereka berkoar menaruh kebencain kepada kita, kita tetap harus mencintainya karena hanya dengan cinta mereka akan menjadi malu dan akhirnya sadar, dan kalau tidak sadar bairlah Allah sendiri yang bekerja menyadarkannya. Semoga kita terus dapat membangun jembatan kasih sehingga dapat menghubungkan setiap orang pada pemahaman sebagia saudara sehingga tidak ada lagi ancaman dan intimidasi yang terjadi. Kita berdoa untuk kebaikan bersama. Tuhan tentu akan memberikan kebaikan kepada kita. Kalau kita baik maka dimanapun kita berada, kita tetap akan dapat memberikan kebaikan. Mari mensyukuri kebaikan Allah kepada kita, karena kebaikan Allah yang akan memberikan kelepasan dan kegembiraan kepada kita.

“Hidup adalah pilihan yang ditawarkan Allah, dan kita hanya bisa memilih satu saja akan tawaran itu. Jika pikiran dan hati kita jernih maka kita akan bisa memilih yang tepat dan baik bagi kelanjutan hidup kita tetapi kalau hati dan pikiran telah cemar maka pilihan tentu akan menjadi salah dan akhirnya menjebak diri dalam ideologi yang membahayakan”.

Air yang tawar bisa diberi warna dan rasa apa saja dan semua bisa menjadi baik, tetap air yang sudah berwarna dan berasa akan sulit sekali diubah. Ia tidak akan bisa menerima dan berubah dengan apa yang  diberikan dan andaikan berubah maka rasa dan warnanya akan berbeda dan bahkan berbeda dengan yang diharapkan.

Salam penuh berkat kebaikan dari Allah.

Dikutip dari tulisan:
Br Petrus Partono ALMA