CATHOLIC MIGRATION OFFICE
Indonesian Catholic Migrant Ministry in New York is member of
Catholic Migration Office of Diocese of Brooklyn

Bersyukurlah dengan apa yang diberikan Allah

Halloween

Halloween is coming….Hari ini disebut hari setan oleh hampir seluruh agama, dan tidak sedikit yang menyatakan “illegal” bagi yang merayakannya. Tapi apa yang terjadi, Hallowen ternyata adalah tradisi Katolik sendiri ?

Tradisi Halloween di jaman Celtic

Suku bangsa Celtic hidup sekitar tahun 800 SM. Mereka tinggal di wilayah kerajaan Inggris sekarang, lebih ke Eropa Barat dan wilayah terpencil yang disebut Turki sekarang. Mereka mengadakan perayaan besar pada setiap menjelang akhir bulan October, yang mereka namakan “SAMHAIN”, suatu festival penutup musim panas.

Bangsa Celtic yakin bahwa tabir antara dunia ini dan akhirat sangat tipis pada waktu itu. Teman-teman dan sanak saudara yang telah meninggal dunia sering kembali, dengan jiwa mereka dalam rupa binatang – biasanya berupa kucing hitam. Kucing hitam telah menjadi simbol paten Holloween sampai hari ini.

Dalam perayaan “panen”, bangsa Celtic mempersembahkan makanan kepada para dewa. Mereka biasanya pergi dari rumah ke rumah mengumpulkan makanan untuk dipersembahkan kepada para dewa. Juga, kaum muda Celtic akan meminta penduduk sumbangan kayu bakar untuk membuat api anggun di puncak-puncak bukit. Inilah dua kemungkinan asal usul dari “trick or treating” yang ada dalam perayaan Halloween sekarang.

Samhain adalah sebuah festival api. Beberapa api unggun dibuat di atas bukit khusus untuk dipersembahkan kepada para dewa. Para penduduk kota akan mengambil bara api dari api unggun untuk dibawa pulang dan dinyalakan lagi di tempat perapian keluarga mereka. Mereka merasa tidak tenang alias nervous ketika berjalan pulang dalam kegelapan; mereka takut roh-roh jahat atau setan. Maka mereka memakai pakaian hantu/demit dan mengecat wajah mereka seperti setan yang menakutkan dalam perjalanan pulang membawa bara api di tangan mereka dari bukit-bukit. Mereka berharap supaya roh-roh yang bergentayangan akan takut dan tidak mengganggu mereka. Nah, anak-anak melanjutkan tradisi berpakaian “hantu-hantuan” ini sekarang dengan segala variasinya. Salah satunya ialah mengukir “labu/pumkin” berupa wajah-wajah yang lucu dan menakutkan.

Apa Hubungannya dengan Gereja?

HARI PARA ORANG KUDUS (All Saints’ Day) diadakan oleh Paus Bonaface IV dalam abad ke 7. Ada begitu banyak orang kudus pada waktu itu yang tidak sempat dirayakan dalam kalender Gereja. Maka Hari para Orang Kudus sengaja diadakan untuk semua orang suci yang tidak sempat dirayakan sendiri-sendiri. Pada mulanya dirayakan pada tanggal 13 Mei, namun oleh Paus Gregorius dipindahkan ke bulan November sejak tahun 835. Mengapa? Ada kemungkinan sengaja untuk menggantikan atau menggeser perayaan Samhain.

HALLOWEEN semula berasal dari kata ALL HALLOW’S EVE yang berarti malam sebelum HARI RAYA PARA KUDUS. “Hallow” adalah kata inggris kuno untuk “saint / kudus”. Kemudian disingkat menjadi Hallowe’en dan akhirnya HALLOWEEN seperti yang kita tahu sampai sekarang.

HARI PARA ARWAH / ALL SOULS’ DAY telah dibuat tanggal 2 November untuk menghormati para arwah orang beriman yang telah meninggal dunia namun bukan termasuk para orang kudus.

Lepas dari setuju atau tidak Halloween dirayakan, masyarakat Amerika dan Canada telah menjadikan Halloween sebagai hari raya besar. “Trick or Treaters” pergi dari rumah ke rumah dan mengumpulkan permen/candies, apel dan lain-lain. Banyak orang menghiasi rumah-rumah dan kantor-kantor mereka untuk halloween. Satu-satunya hari raya yang bisa mengalahkannya ialah Natal.

Bagaimana sikap kita? Gereja Katolik tidak melarang untuk merayakan Halloween. Just make fun! Yang penting bagi kita ialah mendoakan para arwah yang telah meninggal supaya dosa-dosa mereka diampuni oleh Tuhan sehingga tidak bergentayangan dimana-mana. Siapa takut?! Selamat ber-halloween-ria.
Bagaimana Mudika KKI-NY dengan acara Hallowennya ?.

New York,
Rm. Susilo CM